FEB Unram Gelar Pelatihan Pengelolaan Destinasi Wisata di Senggigi

  • Sep 30, 2022
  • Admin Desa Senggigi

Senggigi, Lombok Barat - Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mataram (Unram) menggelar pelatihan pengelolaan destinasi wisata alam dan lingkungan bertempat di gedung Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Taman Wisata Alam Kerandangan, Desa Senggigi, Jum'at (30/9/2022).

Kegiatan ini dalam rangka untuk menciptakan dan menampilkan pembangunan pariwisata Senggigi yang berkelanjutan, dengan segala kearifan lokal dan potensi alam yang dimiliki.

Selain itu, iklim bisnis yang terus mengalami perubahan menuntut masyarakat di sekitar destinasi wisata untuk mampu secara mandiri mengelola destinasi wisata alam dan lingkungan yang ada di wilayah tempat tinggalnya. Kemampuan dan ketrampilan pengelolaan desinasi wisata dibutuhkan oleh masyarakat di sekitar destinasi wisata melalui pelatihan kemampuan dan ketrampilan masyarakat dalam pengelolaan destinasi wisata di Desa Senggigi.

Turut hadir pada kesempatan ini antara lain Kepala Desa Senggigi Mastur, SE, Dosen FEB Unram Dr. Abdul Aziz Bagis M.S.I.E, dan Lalu M. Furqon, SE, MM, Ph.D, Wakil Rektor I Universitas Mataram H. Agusdin, SE, MBA, DBA, Babinkamtibmas Desa Senggigi AIPTU Ida Bagus Badra, Ketua TP-PKK Desa Senggigi Suharti, para Perangkat Desa, LPAD Desa Senggigi, LPM Desa Senggigi serta tamu undangan lainnya.

Dosen FEB Unram, Lalu M. Furqon mengatakan, ada 4 (Empat) aspek utama (4A) yang harus dimiliki oleh daerah destinasi wisata agar bisa berkelanjutan yaitu Attraction, Accessibility, Amenity dan Ancilliary.

"Attraction atau atraksi adalah produk utama sebuah destinasi. Atraksi berkaitan dengan apa yang bisa dilihat dan dilakukan oleh wisatawan di destinasi tersebut. Termasuk keindahan dan keunikan alam, budaya masyarakat setempat, peninggalan bangunan bersejarah, serta atraksi buatan seperti sarana permainan dan hiburan," katanya.

Kemudian Accessibility atau aksesibilitas lanjutnya, merupakan sarana dan infrastruktur untuk menuju destinasi seperti jalan raya, ketersediaan sarana transportasi dan rambu-rambu penunjuk jalan merupakan aspek penting bagi sebuah destinasi.

"Amenity atau amenitas adalah segala fasilitas pendukung yang bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan wisatawan selama berada di destinasi seperti sarana akomodasi untuk menginap serta restoran atau warung untuk makan dan minum. Kebutuhan lain yang mungkin juga diinginkan dan diperlukan oleh wisatawan, seperti toilet umum, rest area, tempat parkir, klinik kesehatan, dan sarana ibadah," jelasnya. 

Lebih lanjut dikatakan Furqon bahwa aspek utama yang keempat adalah Ancilliary. Hal ini jelas dia, berkaitan dengan ketersediaan sebuah organisasi atau orang-orang yang mengurus destinasi tersebut. 

"Ini menjadi penting karena walaupun destinasi sudah mempunyai atraksi, aksesibilitas dan amenitas yang baik, tapi jika tidak ada yang mengatur dan mengurus maka ke depannya pasti akan terbengkalai. Organisasi mengelola dan mengatur sebuah destinasi," ungkapnya.

Sementara itu,Wakil Rektor Universitas Mataram H. Agusdin mengatakan, dalam mengelola dan mengembangkan destinasi, tidak luput dari peran serta dan partisipasi antara Pemerintah dengan masyarakat, saling bahu-membahu serta bekerja-sama dengan baik.

"Antara masyarakat dengan Pemerintah harus bisa berinovasi dan berkolaborasi. Kita tidak bisa berinovasi jika tidak berkolaborasi," terang Agusdin.

"Inovasi merupakan sesuatu yang baru, bermanfaat dan lebih baik dari sebelumnya. Dengan berinovasi dan berkolaborasi maka tentu Multiplier effect akan dapat dirasakan secara bersama," sambungnya.

Ditempat yang sama, Kepala Desa Senggigi, Mastur menyampaikan ucapan terima kasih kepada FEB Universitas Mataram yang telah menggelar pelatihan pengelolaan destinasi wisata alam dan lingkungan di wilayah desa Senggigi.

"Kegiatan-kegiatan semacam ini sangat baik sekali dilakukan di daerah pariwisata seperti Senggigi ini. Kami sangat mendukung. Dan tentunya atas nama Pemerintah Desa Senggigi menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Universitas Mataram," katanya.

Mastur juga mengajak seluruh lapisan masyarakat agar selalu mengeksplor kawasan wisata Senggigi, terutama lewat sosial media. Tidak hanya itu, dirinya juga meminta dukungan kepada Universitas Mataram melalui Lembaga Penelitian Mahasiswa (LPM) agar melakukan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Desa untuk pengembangan kawasan wisata Senggigi.

"Saya harapkan nanti ada MoU antara Pemerintah Desa Senggigi dengan Unram melalui LPM-nya untuk perencanaan -perencanaan destinasi kedepannya," ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan Mastur, Ia juga meminta kepada para pemuda Desa Senggigi untuk bersama-sama memanfaatkan pelatihan dengan sebaik-baiknya dan bisa menerapkan kedepannya dengan baik.

Dalam kesempatan ini juga, dirinya meminta dukungan kepada seluruh masyarakat Desa Senggigi dan dusun Kerandangan pada khususnya terkait rencana pembangunan pondok wisata di Taman Wisata Alam Kerandangan. Dimana, rencana tersebut sudah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) dan sudah mendapatkan izin kerjasama dengan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup melalui Dirjen BKSDA Provinsi NTB.

"Kita harus mulai berbenah untuk pengembangan destinasi wisata Senggigi ini. Dengan adanya destinasi baru di seluruh desa yang ada di provinsi NTB, maka kita tidak bisa hanya berpangku tangan saja. Dengan adanya Mandalika ini, kalau kita tidak punya inovasi maka Senggigi ini akan pudar dengan sendirinya. Oleh karena itu, mari bersama kita bangkitkan kembali primadona Senggigi ini," pungkasnya. (hms-ds).